kalo ada pepatah yang bilang, ‘hidayah itu datangnya tak terduga’, maka aku adalah orang yang 100% mempercayainya..

Senang, itu satu kata yang gak pernah hilang dariku dulu.. Aku punya hampir semua yang bisa dimimpikan seorang gadis remaja.. haha..

sahabat2 deket, pacar yang baek, nilai bagus,, aku hanya kenal satu kata saat itu, buatku hidup adalah untuk 1 tujuan, senang-senang! Aku sadar, kematian yang tidak jadi datang itu bukanlah kebetulan.. entah kenapa, sejak saat itu aku menemukan perasaan nyaman yang selama ini aku cari.. perasaan tenteram menemukan Tuhan..


Aku urungkan niatku, jika Tuhan saja berkehendak aku terus hidup, maka apa hak dunia menolakku?! Tidak ada! Perlahan aku tata lagi satu demi satu hidupku yang hancur berantakan.. sambil berhati-hati agar orangtuaku tidak pernah tau separuh diriku pernah pecah berkeping-keping.. Hanya dalam hitungan hari, keinginan berkerudung itu datang.. Tak ada pemicunya, tak ada kisahnya, begitu tiba-tiba, aku berpikir, ‘aku ingin berkerudung’.. Sabtu, 26 April 2002..


Sepanjang perjalanan pulang sekolah rasa ingin berkerudung itu tak lepas dari pikiranku

But, u know, life can’t be predicted easily, ‘myself’ before wasn’t dead at all.. sebagian masih ada walopun tersembunyi rapat sekali.. dan,, kehidupan di kabinet yang (buat nia) sangat longgar ngebuat sisi-sisi hitam itu mulai berusaha muncul ke permukaannya lagi.. Oh, no!


Yah,, setan memang tidak pernah tidur.. kapanpun kita lengah,, jangan harap dapat lepas dari jeratnya.. ^^

Ya, ini hidupku.. Yang masih diberikan padaku tepat ketika aku ingin mengakhirinya.. Perjalanan yang takkan pernah hilang bekasnya.. Tapi, lahiat aku sekarang! Aku hidup! Jika Allah saja berkenan memberiku nafas yang masih tersambung tak terputus, maka apa hak dunia menolakku??


Berat ya?! Tapi ini pilihan.

Jangan nangis,,

Jangan manja, Nia!

Mimpi adalah kunci

Untuk kita menaklukan dunia

Berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya

Laskar pelangi takkan terikat waktu

Bebaskan mimpimu di angkasa

Warnai bintang di jiwa

Kuberi tahu satu rahasia padamu kawan

Buah paling manis dari berani bermimpi

Adalah kejadian-kejadian menakjubkan

Dalam perjalanan menggapainya

—Karpov

Desiran angin lembut sore hari di penghujung April membelai poni rambut pendeknya. Ia diam. Gadis kecil sipit berponi itu tak sedikitpun terganggu oleh angin yang kini mulai keras menepuk-nepuk pipinya. Pikirannya sibuk dengan hal lain,, hal yang mustahil singgah di kepalanya 5 menit lalu. Jauh, jauh sekali, senampak Belomorsk menatap Olovyannaya. Namun secepat eskalasi metafora alam semesta, derik transmisi neuron itu berkenan singgah sejenak di otaknya. Memberikan setitik jejak.

Mengubah dunianya.

Keputusan itu tiba! Tiba-tiba muncul membujuknya, merayu hatinya, melayangkan satu harapan tak pasti yang entah darimana datangnya dan membulatkan satu tekad dengan daya survival luar biasa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Keputusannya untuk mendekatkan dirinya pada Sang Pencipta—hal yang amat tak terjangkau pikirnya. Yang tersimbolkan dengan ketaatan seorang wanita mengenakan helaian kain di atas rambut. Bagi dunia, mungkin itu sederhana. Tapi baginya, itu segalanya. Lebih dari hidupnya. Bukti dari segala janji yang tak pernah ia ketahui dapat ia penuhi atau tidak. Tanda dari segala ikrar untuk membuang seluruh kehidupannya. Membuang jauh-jauh pribadinya dan memulai semuanya dari awal lagi. Sekaligus bahagia karena Tuhan masih berkenan menyentuh hatinya.

Ditatapnya cermin lama-lama. Ada wajahnya sendiri disana. Dipandanginya pelan-pelan sepasang mata sipit yang terpantul sempurna diatas kaca.

Perlahan pandangannya mengabur, tergantikan dengan pemandangan tawa riuh. Lelaki dan perempuan. Bercampur baur. Ribut. Senang. Ia berdiri di tengah perhatian. Menarik. Dengan satu tindikan di telinga kanan. Tertawa keras. Menikmati semuanya.

Pemandangan makin buram dan berganti. Sepasang lelaki dan perempuan berjalan bergandengan tangan. Dekat. Mesra. Lama sekali. Jelas Ia disana, menggenggam tangan kekasihnya. Cintanya. Jiwanya.

Cermin kembali berubah. Kali ini semrawut asap rokok dan hingar bingar deru motor bersahut-sahutan. Sesekali teriakan dan umpatan keras terdengar. Perkelahian berebut ada di sekelilingnya. Lagi-lagi ia pun disana. Ikut ambil bagian tentunya. Teriakannya terdengar. Menertawakan mereka.

Lalu perlahan bayang-bayang itu mengabut. Kini terlihat seorang gadis tergeletak lemah bersimbah darah. Pergelangan tangan kirinya bergurat-gurat tersayat. Terlihat sebatang cutter tergenggam di tangan kanan. Haha, korban sinetron rupanya. Matanya sembab. Namun bibirnya tertawa. Tertawa melihat betapa bodohnya ia menghancurkan hidupnya sendiri. Menghujani dirinya sendiri dengan dosa dan air mata. Meneror hatinya dengan satu kegelisahan yang tak pernah ia temukan jawabannya mengapa. Air mata mengalir. Ia teringat kekasihnya. Teringat teman-temannya. Teringat mereka semua meninggalkannya. Kini ia hanya punya satu keinginan. Mengakhiri 14 tahun keberadaannya di dunia—ha, rupanya ia masih muda—seperti halnya keadaan dan kebodohan telah mencabik-cabik masa depannya.

Lalu tiba-tiba semua bayang-bayang itu hilang.

Ia diam menatap cermin.

Kini ia disini. Hidup. Tuhan belum menginginkannya pergi. Ia kini mengerti adanya mozaik dan rahasia ia tak dibiarkan mati. Bahwa ia berarti.

’Jika Tuhan saja tidak menginginkan aku mati, maka dunia tidak berhak mengusirku pergi’

Perlahan ia menghela nafas dan satu kekuatan baru menerobos jiwanya. Tenteram membuai hatinya sekaligus menebaskan semua keraguan dan ketakutan yang ada. Matanya berkilat. Kini ia tak takut apa-apa lagi. Hanya Dia-lah harapannya. Alasan keberadaannya. Kehidupannya. Dan untuk itu, tanpa ragu lagi ia bersedia meninggalkan semuanya, masa lalunya, dan mengubah dirinya. Saat itu bulan April. Dan ia ingin menghadapi dunia. Sekali lagi.

Matahari April menatapnya dalam dan kembali mendesirkan anginnya. Ia tersenyum. Langkahnya kini ringan sekali.

[for the best power and inspiration]

Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni syurga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah pudar dalam segala musim dan peristiwa..

Kepadamu kulirihkan sepenggal doa dalam sepertiga malamku..

“Ya Rabb, jagalah sahabat da’wahku ini, kuatkan teguh kakinya di jalanMu, kuatkan jasadnya dengan rahmatMu, kuatkan ruhnya dengan ruhMu, buatlah dia tersenyum hingga kelak kami dapat bertemu..

Di syurgaMu.., insya Allah..!”

Kepadamu kutaruh sebuah pengharapan yang tiada terhingga..

Pengharapan tak terputus akan keistiqomahan seorang sahabat dalam rimba da’wah..

Pengharapan tiada habis akan ke-siqoh-an seorang sahabat dalam mengarungi aktivitas termulia..

Pengharapan tak berakhir akan kesungguhan seorang sahabat yang berjuang demi Izzah Islam wal muslimin..

Laksana Sayyidina Mush’ab bin Umair ra yang syahid menggenggam Ar-Rayyah dalam perang Uhud..

For someone who gives the smile for me..

Wish we’ll be together on His jannah..

Amiinn…

Pernah baca ‘The Kite Runner’?!

Novel yang menurut aku bagus banget,, mengajarkan bagaiaman caranya mencintai dan menghargai sebuah kata bernama ‘persahabatan’. Juga mengajarkan keberanian untuk mengakui kepengecutan dan memperbaiki suatu kesalahan fatal..Believing is everything..

But, being believed, is more expensive than anything..

Gak tau ya, buat aku banyak yang bisa didapet dari novel ini, nilai2nya ‘ngena’ banget.. Karakter tokoh2nya terlalu wajar, gak selalu jahat, tapi juga gak seterusnya baik.. bener2 menggambarkan sisi baik dan buruk seorang manusia..

Mengajarkan bahwa untuk menjadi pahlawan, kita tidak harus selalu menang..

Justru mengakui dan memperbaiki kesalahan adalah langkah awal untuk menjadi seorang pahlawan..

(Tulisan lama,, blom di-aplot, heuheu..^^)

Kapitalisme, Ideologi yang sejak kelahirannya terus menerus memberikan bencana bagi umat manusia, tengah memulai satu permainannya lagi.
Setelah sekian banyak permainan dilakukan pada hampir seluruh aspek kehidupan, kali ini Kapitalisme mengambil isu lingkungan sebagai panggung untuk memainkan lakon terbarunya: Global Warming.

Global Warming
Global Warming atau Pemanasan Global merupakan peningkatan temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Salah satu yang dituding sebagai penyebabnya ialah peningkatan efek rumah kaca yang terjadi di bumi akibat aktivitas manusia terutama dalam bidang industri. Beberapa ahli berpendapat, sejak revolusi industri, jumlah emisi gas rumah kaca (CO2, CH4, NOx, SOx, SF6, H2O, dan PFC) meningkat tajam dan mengikis lapisan ozon, sehingga terjadilah efek gas rumah kaca. Efek gas rumah kaca inilah yang menyebabkan pemanasan global dan mengubah iklim dunia secara keseluruhan dengan berbagai dampaknya yang serius terhadap ekosistem dunia 1).
Dalam sekejap global warming menjadi headline news bagi dunia. Seluruh dunia bangkit untuk peduli dan bahu membahu mengatasi permasalahan ini. Desember 1997, negara-negara yang tergabung dalam UNFCC berkumpul di Kyoto, Jepang. Para pemimpin negara ini sepakat menandatangani protokol Kyoto yang diadopsi dari Pertemuan Bumi di Rio de Janerio tahun 1992. Pernyataan pers PBB menyatakan protokol ini merupakan persetujuan negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5.2 % dari tahun 19902). Tidak hanya itu, pada tanggal 3-14 Desember 2007 lalu baru saja dilaksanakan United Nations Climate Change Conference 2007 di Denpasar, Bali. Konferensi tersebut telah menghasilkan sejumlah keputusan termasuk Bali Roadmap yang merupakan sebuah kumpulan keputusan yang dibuat sebagai persiapan untuk konferensi PBB tentang perubahan iklim global yang akan diselenggarakan di Kopenhagen (Denmark) pada tahun 2009. Selanjutnya, hasil dari konferensi di Kopenhagen tersebut akan diratifikasi oleh negara-negara di dunia untuk menggantikan Kyoto Protocol yang akan berakhir pada tahun 2012 3).
Ada Apa dengan Global Warming
Global Warming sebenarnya bukan berita yang baru. Isu serupa juga menjadi headline news pada tahun 1997-1998, bersamaan dengan badai El Nino yang melanda berbagai kawasan di dunia 10 tahun lalu. Cukup mengejutkan memang, kalau tidak bisa dikatakan janggal, bahwa isu yang sempat teredam dan tak terlihat geliatnya selama rentang waktu 10 tahun itu kembali mencuat akhir-akhir ini. Tanpa diawali oleh suatu peristiwa yang ‘spektakuler’, isu pemanasan global seolah ‘bangkit dari kubur’ dan kembali menjadi permasalahan hangat dunia.
Pada faktanya, perdebatan mengenai ada-tidaknya Global Warming masih terus berlangsung di kalangan ilmuwan seluruh dunia. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa global warming bukanlah suatu fenomena ‘luar biasa’ yang diakibatkan aktivitas manusia, melainkan merupakan satu siklus alami yang terjadi pada iklim dunia. Peningkatan temperatur mungkin saja terjadi, namun itu merupakan bagian dari siklus penghangatan dan pendinginan (warming and cooling) alami yang berlangsung pada bumi 4).
Pendapat para ahli yang mengatakan bahwa global warming hanya merupakan satu siklus alami adalah pendapat yang jarang terdengar. Padahal, perbandingan antara pendapat yang mengatakan pemanasan global merupakan efek dari aktivitas industri manusia dengan pendapat yang menyatakan bahwa pemanasan global adalah siklus alami nyaris mencapai angka 1 banding 1. Artinya, validitas terjadinya global warming pun masih belum mencapai angka 100%.
Saat ini, masyarakat dunia hanya dijejali dengan opini dan fakta-fakta yang mendukung satu pendapat saja. Dunia tengah digiring pada satu opini umum bahwa global warming sedang terjadi sebagai akibat dari aktivitas manusia. Baik aktivitas industri yang menyebabkan meningkatnya emisi gas rumah kaca, maupun hilangnya hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia. Opini pengimbangnya, beserta data-data yang mendukung, yang menyatakan bahwa global warming hanyalah suatu peristiwa alam biasa tidaklah dibeberkan pada masyarakat bahkan cenderung ditutup-tutupi. Ada apa?!

Other Story of Global Warming
Melihat permasalahan global warming, bukan berarti membatasi analisis pada sisi lingkungan saja. Global warming ini justru terkait erat dengan masalah ekonopolitik dunia. Hal ini sedikitnya terlihat dari Bali Roadmap yang merupakan hasil dari United Nations Climate Change Conference 2007 yang berlangsung di Denpasar, Bali, 3-14 Desember 2007 lalu5).
Hal utama yang dituding sebagai penyebab global warming adalah proses industrialisasi dan deforestasi yang terjadi di dunia. Negara-negara maju dituding sebagai pelaku industrialisasi berlebihan yang menyebabkan peningkatan luar biasa besar terhadap emisi gas rumah kaca, terutama Amerika Utara dan Eropa yang menyumbang sekitar 22 milyar ton karbon per tahun6), sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Brazil dituduh sebagai pelaku deforestasi atau pengurangan hutan secara besar-besaran. Deforestasi dalam bentuk kebakaran hutan yang amat luaslah yang menyebabkan Indonesia berada di urutan ketiga negara penyumbang emisi CO2 terbesar setelah Amerika dan China7).
Pasca berbagai konferensi dan kesepakatan untuk mengurangi global warming effect yang notabene dimotori oleh negara-negara maju, terjadi berbagai peristiwa yang terlihat jelas sebagai saling melempar tanggung jawab. Misal, walau 186 negara sudah sepakat untuk meratifikasi Protokol Kyoto, Amerika malah mangkir. Padahal Amerika punya reputasi penyumbang emisi terbanyak. Runyamnya lagi, Amerika justru yang paling santer berkoar soal global warming dan menyeru negara-negara berkembang supaya jangan mengeksploitasi hutan mereka dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil serta menggantinya dengan sumber energi alternatif, seperti bio fuel, bio diesel, dll. Mekanisme ‘carbon credit’ pun dicanangkan sesuai dengan kebijakan CDM (Clean Development Mechanism) dalam Protokol Kyoto. ‘Carbon Credit’ adalah kompensasi dalam bentuk dana yang diberikan kepada negara-negara yang mengurangi emisi CO2nya lebih besar dibandingkan dengan yang tercantum pada perjanjian. Kelebihan pengurangan emisi ini diberikan kompensasi oleh negara-negara yang tidak dapat (atau tidak mau) mengurangi emisi CO2nya. Terjadi pembelian emisi CO2, seperti yang dialami Brazil yang mendapat minimal $150 milyar per tahun sebagai kompensasi pelestarian hutan Amazon8). Malah, dalam KTT APEC di Sydney, Australia, 7-9 September 2007, Presiden AS George W. Bush memberikan US$20 juta kepada Indonesia untuk membantu penghijauan hutan, sebagai suatu dukungan pada Indonesia untuk mengurangi emisi CO2nya9).Pada kondisi ini terlihat jelas bahwa negara-negara berkembang dijadikan ‘objek penderita’ dalam mengatasi masalah global warming. Negara-negara maju, jelas-jelas tidak dapat mengurang emisi CO2 karena akan menghancurkan industri dan infrastruktur ekonomi dalam negeri mereka. Karena itu mereka lantas mencoba mencari kambing hitam dengan menjadikan negara-negara berkembang bersikap aktif dalam mengurangi emisi CO2 dan membayar sejumlah dana sebagai kompensasinya.

Behind The Scene of Global Warming
Berbagai fakta dan analisis diatas makin memperkuat dugaan bahwa memang Kapitalisme tengah menjadikan Global Warming sebagai panggung dalam lakon terbarunya. Isu Global Warming, terlepas dari kontroversi mengenai benar atau tidak, telah memberikan keuntungan sangat besar bagi negara-negara maju pengusung Kapitalis, terutama Amerika.
Pengarahan opini dunia pada pentingnya mengatasi global warming merupakan gerbang awal dalam memainkan lakon ini. Dunia diposisikan pada suatu kondisi dimana global warming harus diatasi, bagaimanapun caranya. Hasil dari sekian banyak konferensi yang dilakukan dalam membahas hal tersebut adalah dengan mengurangi emisi CO2, yang berarti meminimalisir sebisa mungkin penggunaan bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, gas, batu bara dll.
Seolah latah, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia dengan antusias mengikuti dan mencoba menerapkan kebijakan tersebut tanpa melihat kesiapan dalam negeri. Penggunaan bahan bakar fosil terutama minyak bumi sudah diminimalisir dan subsidinya bagi rakyat sudah dihentikan. Sebaliknya, penelitian dan pengembangan bagi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan mulai digalakkan. Bahkan sangat digalakkan. Blow up opini media mengenai bahaya global warming dan bahan bakar fosil sudah sedemikian hebatnya sehingga penggunaan energi alternatif ramah lingkungan seolah menjadi harga mati yang tak bisa dibantah. Dampaknya tak tanggung-tanggung, salah satunya adalah konservasi ribuan hektar lahan pertanian menjadi lahan jarak dengan harapan dapat menjadi sumber pasokan bagi pengembangan sumber energi alternatif. Padahal ribuan petani menderita kerugian, karena waktu panen tanaman jarak yang lebih lama serta biaya pemeliharaannya yang mahal. Lahan pangan pun menurun drastis yang menjadikan Indonesia harus mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Ironis bukan?!
Dampak lain yang tidak kalah seriusnya adalah kematian industri dalam negeri. Sebagaimana diketahui bersama, sebagian besar industri di Indonesia menggunakan bahan bakar fosil dalam proses operasinya. Sumber energi alternatif masih belum dapat menggantikan peranan bahan bakar fosil dalam proses industri ini. Atau setidaknya, Indonesia belum siap. Minimalisir penggunaan bahan bakar fosil ini secara otomatis akan mengganggu perindustrian Indonesia sebelum akhirnya mati.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara-negara berkembang lainnya di seluruh dunia. Mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam rangka pencegahan global warming tanpa mempedulikan kesiapan dalam negeri mereka sendiri. Sementara negara-negara maju dapat dengan tenang melanjutkan proses industri dan keidupan mereka tanpa takut akan emisi CO2 yang mereka keluarkan karena adanya program CDM (Clean Development Mechanism), sehingga mereka dapat ‘mengupah’ negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi CO2 sebagai pengimbang atas emisi CO2 yang dikeluarkan negara-negara maju.
Satu hal penting yang perlu diingat adalah keberadaan global warming sebagai akibat dari ulah manusia masih diperdebatkan sampai detik ini. Berbagai upaya pengurangan emisi CO2 yang dilakukan dunia belum 100% diyakini efektivitasnya dalam mengatasi global warming.
Tidak hanya sampai disitu, tujuan terbesar dalam pengguliran isu global warming adalah menjadikan Amerika dan negara-negara Kapitalis lain sebagai pemain tunggal ekonomi dunia dan mencengkeramkan lebih erat hegemoni mereka atas dunia.
Suatu paradoks yang mengerikan akan terjadi. Bayangkan suatu keadaan dimana industri di negara-negara berkembang menjadi lumpuh (karena terikat dengan perjanjian global warming) padahal kebutuhan dalam negeri mereka begitu tinggi sehingga ketergantungan mereka atas impor menjadi semakin tinggi. Sebaliknya negara-negara maju bebas menjalankan industrinya bahkan mungkin lebih hebat lagi karena telah membeli ‘carbon credit’ dari negara-negara berkembang. Sumber energi fosil yang terdapat di negara-negara berkembang menjadi ‘tak tersentuh’ dalam pengembangan dalam negerinya dan dapat dimanfaatkan dengan bebas oleh negara-negara maju untuk membiayai industri-industri mereka, lewat berbagai investasi, perjanjian dan sebagainya, bahkan mungkin dengan harga murah. Mekanisme utang-piutang akan marak kembali sehingga campur tangan negara kapitalis terhadap kebijakan dan undang-undang negara-negara dunia menjadi satu keniscayaan.
Cengkeraman Amerika dan sekutunya terhadap dunia menjadi makin erat, karena sentralistik ekonomi dunia dengan Amerika sebagai poros, bahkan mungkin satu-satunya poros. Tak pelak lagi, penderitaan akan melingkupi umat manusia.

Solusi Terbaik, Islam Rahmatan lil ‘Alamin
Kapitalisme merupakan ideologi yang didasarkan pada hawa nafsu dan kerakusan manusia. Wajar saja jika keberadaannya saat ini terus menerus menimbulkan penderitaan tak berujung bagi dunia. Tidak hanya manusia, namun juga alam sekitar kita.
Fashluddin ‘anil hayyah atau pemisahan agama dan kehidupan (sekularisme) yang menjadi asas ideologi ini menjadikan manusia membuat aturan kehidupannya senidri sekehendak hatinya. Benar salahnya suatu aturan didasarkan pada keuntungan dan kenikmatan sebesar-besarnya yang dirasakan oleh sang pembuat aturan tersebut. Tidak peduli apakah itu merugikan orang lain atau tidak. Hukum rimba berlaku dengan pasti dimana sang pemilik modal adalah pihak yang kuat dan karenanya selalu menjadi pemenang dalam hal apapun. Tidak heran jika negara-negara pengusungnya seperti Amerika selalu melakukan ekspansi terhadap negara lain teruatama negeri-negeri Islam yang kaya SDA dan kini tengah berstatus sebagai negera-negara berkembang,
Global warming hanyalah satu kasus yang menunjukkan betapa kapitalisme yang diusung AS berusaha menguasai dunia, terutama negeri-negeri Islam. Lihat saja negara-negara yang dibidik dalam kasus global warming, sebagian besarnya merupakan negeri-negeri Islam yang kaya akan sumber daya alam. Global warming pun hanya digunakan sebagai senjata untuk merampok habis kekayaan negeri-negeri muslim sekaligus membuat kaum muslimin bertekuk lutut di hadapan Amerika, sang penguasa.
Satu-satunya solusi yang dapat menyelesaikan permasalah ini dengan tuntas adalah dengan kembali kepada hukum-hukum dari Sang Pencipta kita, Allah SWT. Kembali pada Islam secara kaffah dalam suatu bingkai institusi Daulah Khilafah Islamiyyah. Keberadaan Khilafah Islam inilah yang akan menghimpun seluruh negeri muslim di seluruh dunia tanpa kecuali dalam satu kesatuan, memberikan perlindungan terhadap kaum muslim dari cengkeraman negara-negara Kapitalis, dengan menolak secara tegas berbagai upaya mereka untuk mengobok-obok negeri Islam dan merampok kekayaan alamnya, serta menjalankan aturan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam hal pengelolaan SDA tanpa melupakan aspek lingkungan.
Karena itu, sesungguhnya tidak ada pilihan lain bagi kaum muslimin selain berjuang untuk bersama-sama bersatu di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah, tidak hanya untuk menyelesaikan masalah global warming, namun juga untuk menyelesaikan seluruh permasalahan dunia akibat ulah Kapitalisme. Lebih jauh lagi, kewajiban menegakkan Daulah Khilafah Islamiyyah merupakan kewajiban paling mulia yang harus dilakukan oleh setiap muslim.[QED]

1. http://www.majarikanayakan.com/2007/10/indonesia_and_global_warming/ 12jan08
2. http://vebymega.blogspot.com/2007/08/utang-pemanasan-global-amerika.html 8jan08
3. http://www.majarikanayakan.com/2007/12/UNCCC2007-Bali-Roadmap/12jan08
4. http://www.spacescience.com/default.htm, 12jan08
5. http://www.majarikanayakan.com/, 12jan08
6. http://nofieiman.com/category/news/, 12jan08
7. Emil Salim; Koordinasi Informasi Pemanasan Global terhadap Perekonomian Indonesia
8. http://unfccc.int/meetings/cop_13/items/4049.php, 12jan08
9. http://unisosdem.org/kliping_list.php?coid=1&caid=56, 12jan08

Sekarang aku sendiri, berlari..

Menatap matahari..

Aku lelah, nafasku berdesah patah-patah dengan te;lapak kaki terbajar, pedih terkelupas.. Namun matahari itu masih jauh dari genggaman..

Ia menggodaku..

Menantangku mengejarnya dengan tamparan sinarnya di wajah pucatku, mengejekku dan mengatai ketidakmampuanku mengejar sosoknya..

‘Haha, pengecut! Tangkap aku!’

Tangan ringkihku terulur, mencoba meraihnya, namun tak jua kurasakan panas membara sang matahari pada jemari hitamku..

Segenggam silau padamkan sadarku, menjemputku dalam buaian angin padang gurun nan garang, mengangkat separuh harga diri yang terserak patah, menghamburkannya, berantakan, seperti abu-abu kosmik saat pertama diciptakan..

Hilang dalam ketiadaan..

Rangkaian embun pagi hadirkan secercah harapan, sekilas saja.. Secepat angin barat daya yang serentak datang mengacaukannya.. Serupa derap kuda-kuda perang memperkosa damai tenang mimpi bayi dalam buaian sang fajar..

Keras! Merusak!

Damai di kepalaku hancur oleh ilalang yang mendadak tumbuh disana..

Banyak!

Padat!

Deru dentam kemahsyuran Baginda Raja tak ubahnya rengek isak ulat-ulat manja yang iri pada kupu-kupu..

Daun-daun bergemerisik hilangkan iramanya, malawan kehendak menjadi hijau, memicingkan sebelah mata, separuh jiwa, merangsek cepat, menjadi cokelat, menanti hilang, terjatuh ditempa angin senja hari.., menghias simfoni negeri 4 musim sebelum putih salju mewarnai wajah-wajah pagi..

Seorang gadis terduduk mesra, dengan binar merah muda, menanti ucap srindu kekasih tercinta, dalam hatinya yang perawan.., menisik hari, menyulamnya dengan benang-bennag pengharapan, mengunjungi kelamnya danau hati, memercikan aroma kepercayaan dan cinta..

Anak-anak kecil berlari mengejar bola, di sudut desa, tertawa gembira, tak peduli apa yang menanti mereka di ujung sana..

Segayung murka tumpa tersandung kupu-kupu yang alpa menjalankan tugasnya mengisap sari bunga, basah membasahi kepala sang pencuri yang hendak pergi. Hadirkan satu kesadaran tentang kebenaran hakiki yang selama ini ia cari!

Senandung pilu anak gembala, menangisi kerbaunya yang terbaring kelelahan, mengharap bantuan, mengidamkan pembalasan pada angkara tak bertuan, tangan-tangan penjajah yang merobek nasibnya, menyisakan serpihan kemiskinan yang harus puas dilakoninya..

Derit kelelawar memanggang cekam! Ditambah pekik purnama dan belaian mesra kabut-kabut petang, auman serigala negeri antah berantah menyertai pedihnya nisan-nisan tak bertuan.., nisan-nisan terlupakan..

Dan anak itu, yang menangis terlunta-lunta di jalanan hanya karena ingin makan, terpaksa menelan segenggam pil kehidupan yang terpatri kuat dalam ingatan, ‘yang kaya selalu menang!’

Ini yang disebut kehidupan!

Kualihkan pandangan, kulihat para anggota dewan berdasi kupu-kupu, perlente, dengan perut kekenyangan dan kening berlipat memikirkan daftar pesanan sang permaisuri.., peluh menghiasi, menguatkan sepasang tangan untuk membubuhkan tanda tangan terlarang..

Pekik gembira membahana, membanjiri dunia dengan berlinangan gemerlap lamu warna-warni.., dentuman musik membius diri dan merasuki hati untuk menari.. terus, sepanjang malam.. Menanti pagi..

Sepotong meja kayu mahoni hitam berkilat terserak manja di pusat, menggertak marah, meminta perhatian sang manusia-manusia penari.., gelas-gelas kristal angkuh berisi cairan bahagia berjejer berderet-deret.., cantik.., menggoda..

Kerikil-kerikil kecil senantiasa ada, mengganjal langkah sesosok wanita berbaju tebal! Langkah terseok meninggalkan gurat-gurat kesedihan, membayang wajah suami dan anak laki-lakinya yang telah tenang dala satu dunia yang berbeda.. 2 cinta yang terenggut karena idealisme. Kegigihan memang selalu dibayar mahal, apalagi jika berhadapan dengan otoritas berusia 32 tahun..

Dan inisial tak berujung ini tak lelah menggoreskan mimpi-mimpi, yang bagi anak kecil berperut lapar di kolong jembatan, adalah buah dongeng yang manis rasanya.. Berebut, egois, mencoba hilangkan ironi pada hati-hati putih yang diselimuti debu tebal 7 centi. Hilangkan gurat-gurat rasa malu, dan harga diri.. Melibasnya mati dan pergi..

Senandung syahdu pemain cello tenggelam dalam drama kepura-puraan dan lautan topeng-topeng palsu. Kemilau cahaya kejujuran hanya tampak di ujung-ujung pelangi, membias ke segala arah, melapas foton-foton yang angkuh melesat pergi, membawa jejak-jejak Einstein..

Eskalasi peradaban menemui paradoksnya. Ironi yang hiperbolis! Ia bersiklus amat pendek bergantung pada tonggak rapuh manusia. Mencemooh kuasa Sang Pencipta dan angkuh berlari menuju lumbung neraka. Derap irama peradaban berputar cepat, selayak roda menuruni lereng gunung, menyambut jurang menganga yang teramat elok dihiasi air terjun cantik berdera-derai..

Dan disinilah aku berdiri..

Sendiri.. Menatap matahari..

Dua puluh tahun waktu bergerak. Berdetak. Memetamorfosiskan bayi mungil yang dulu terlahir tanpa tangis menjadi seorang pemuda cerdas penuh masa depan menjanjikan.

Aku.

Narcistme adalah benalu sejak awal eksistensi manusia. Berebut pengaruh dengan moralitas yang orang bilang wajib terimplementasi pada manusia beradab. Kini, dalam renungan di sepertiga malamku, kuredam moralitasku dalam-dalam dan kubiarkan narcistme-ku melanglang buana, menjadi raja alam pikirku. Sesuatu yang tak pernah aku biarkan terjadi di dunia nyata.

Aku hebat.

Memang begitulah aku. Dengan titel ‘mahasiswa’ ber-IQ 138 di sebuah Perguruan Tinggi ternama, aku dengan tenang menghitung mundur hari-hari menuju gelar Sarjana sambil menelusuri huruf ‘A’ yang terbaris rapi pada transkrip nilai bertuliskan namaku.

Aku orang yang menyenangkan. Kecerdasan tidak menjadikanku mahasiswa kutu buku yang ringkih dan terkurung di sudut perpustakaan. Aku supel dan banyak teman. Rujukan bagi teman-temanku untuk meminta saran atau sekedar curhat tentang kehidupan. Masa depanku sama sekali tidak kukhawatirkan. Kecerdasan intelektualku yang ditunjukkan dengan serangkaian nilai ‘A’ dan IPK diatas tiga koma lima cukup untuk membuatku ‘aman’ berkarir di masa depan.

Aku cukup religius. Seorang muslim, yang cukup bangga akan hal itu. Shalat 5 waktu tak pernah aku tinggalkan, begitu pula ibadah sunnahku yang kupikir tak terlalu mengecewakan. Kupikir inilah cara aku bersyukur padaNya atas segala nikmat dan kelebihan yang diberikanNya padaku. Aku tak pacaran. Bukan hanya karena ku tahu itu haram, namun lebih karena aku terpesona pada kebebasan. Meski karenanya aku harus memalingkan diriku dari gadis-gadis berpipi merah jambu yang menunduk malu-malu.

Lihat, bukankah sudah kukatakan bahwa aku hebat?! Aku sosok impian banyak orang.

Aku menjalani hidupku dengan ringan, tenang dan menyenangkan. Apalagi yang kurang dariku?! Aku terikat pada aturan Tuhan, cukup religius bahkan. Aku cerdas dengan IPK jauh diatas lumayan. Aku pun teman yang menyenangkan serta anak yang membanggakan. Aku Parfait. Sempurna.

Cermin keangkuhanku hancur bulan lalu. Saat adik perempuanku yang masih duduk di kelas 6 SD tiba-tiba bertanya, “A, Ade ada PR Agama nih. Nomor lima, ‘Sebutkan tujuan hidup manusia di dunia ini?’. Belum sempat pertanyaan itu kujawab, ia bertanya lagi, “Emang tujuan manusia hidup apa A? Kalo tujuan hidup Aa?!”

Aku diam.

Entah kenapa lidahku kelu menjawab pertanyaan sederhana itu. Aku, ‘De Parfait, The Perfect, sang sempurna ternyata tak dapat berbuat apa-apa menghadapi pertanyaan sederhana seorang gadis kecil berumur 12 tahun. Untuk apa aku hidup?!

Dengan kecerdasan yang Allah karuniakan kepadaku seharusnya amat mudah bagi diriku mengetahui maksud penciptaanku, esensi hidupku, dan diriku. Namun kenapa aku tak melakukannya?! Apakah selama ini aku terlalu sibuk menghiasi diriku dengan pernak-pernik ‘kesempurnaan’ yang diinginkan banyak orang, hingga tak lagi peduli pada esensi, tujuan, dan maksud penciptaan diriku?

Astaghfirullahal’adzim..

Aku tahu, sesungguhnya tidak sulit untuk mengetahui esensi kehidupan seorang manusia. Aku tidak memerlukan suatu Enigma berkalibrasi identik seperti halnya yang dilakukan pasukan NAZI saat membuka naskah berkode. Aku juga sama sekali tak membutuhkan penerapan Prinsip Bergofsky seperti yang dilakukan para kriptografer Amerika untuk mengurai algoritma suatu sandi. Aku hanya perlu membuka Al-Qur’an, kitab suci Kaum Muslim, kitab sempurna yang terjaga selamanya.

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Itulah tujuan hidupku. Tujuan hidup manusia. Tapi bukankah itu telah aku lakukan?! Shalat 5 waktu tak pernah aku tinggalkan, ibadah sunnah kerap aku lakukan, apalagi yang kurang?!

Otakku yang cerdas berputar dengan cepat dan meneriakkan jawaban itu dengan lantang, ‘Apa kau pikir aturan Allah hanya menyangkut urusan itu saja?! Apa kau pikir Allah hanya mengatur masalah individu manusia saja? Tidak lebih?! Lantas bagaimana dengan masalah masyarakat? Apa memang Allah tidak punya penyelesaian untuk itu semua? Atau memang kau hanya mencukupkan dirimu untuk mengetahui sebagian aturan Allah saja dan tidak mau tahu yang lainnya?!’

Aku diam. Jelas 6236 ayat di Al-Qur’an tak hanya menjelaskan tentang pengaturan manusia sebagai seorang individu saja. Aturan mengenai urusan publik manusia tercantum begitu banyak. Allah mengatur manusia dalam urusan ekonomi (QS. Al-Baqarah:275; Al-Jumu’ah:10; Al-Qashash:77), pendidikan (QS. Yunus: 36; Al-Baqarah:164; dll), peradilan hukum (QS. Al-An’am:57; An-Nur:2; An-Nisa:59), pergaulan (QS.An-Nur:30-31; Al-Isra’:32), bahkan pemerintahan (QS. An-Nisa:59; QS. Al-An’am:7; HR. Muslim). Islam itu sempurna seperti yang Allah firmankan dalam QS. Al-Maidah ayat 3.

Tapi semua itu menjadi fatamorgana di kehidupan nyata. Aturan Allah yang mengatur urusan publik manusia terpinggirkan dan tersimpan rapat hanya sekedar menjadi rangkaian huruf dalam kitab. Mendominasi ranah teoretis tanpa pernah menyentuh tatanan praktis. Pantas saja jika saat ini umat terbelit beragam masalah dan penderitaan. Masalah umat terlalu banyak. Pelik. Sulit. Complicated. Tak bermuara pada apapun kecuali lingkaran penderitaan yang menyala-nyala. Berbagai solusi dilontarkan, namun tak satupun dapat menyelesaikan permasalahan umat dengan tuntas. Jelas saja itu terjadi. Aku yakin, hasilnya akan berbeda jika yang digunakan untuk menyelesaikan semua permasalahan itu adalah aturan Allah.

Aku bersyukur, Allah berkenan menyadarkan aku. Bahwa De Parfait adalah seorang manusia biasa. Sama sekali tak ada yang sempurna. Memang, mungkin aku terlihat sedikit ‘lebih’ dibandingkan orang lain. Namun sama sekali tak sempurna. Aku malu pada diriku. Kesibukanku menjaga ‘kesempurnaan’ agar ‘De Parfait tetap hidup telah membutakan aku bahwa masalah umat begitu banyak dan menyuburkan ketidakpedulianku pada itu semua.

Tapi kini aku peduli.

=============================================================

Aku. Mahasiswa ber-IQ 138 di sebuah Perguruan Tinggi ternama. Menyenangkan. Supel dan banyak teman. Rujukan bagi kawan-kawan untuk meminta saran atau sekedar curhat tentang kehidupan. Masa depanku sama sekali tidak kukhawatirkan dengan IPK diatas tiga koma lima yang cukup untuk membuatku ‘aman’ berkarir di masa depan.

Namun kini, ada satu tambahan penting atas diriku,

Aku pejuang Islam!

————————————————————————————

Tulisan seseorang yang selalu menyemangatiku..

Kuingat satu sosok yang pernah teramat dekat denganku..

Tak ada kata yang dapat menggambarkan sosok itu, kecuali, semangat! Semangat dan keyakinan akan kebenaran yang membuatnya kuat untuk tetap melangkah saat yang lain tak mampu lagi bergerak..

Semangat dan keyakinan bahwa apa yang dia perbuat adalah satu anak tangga kecil dari ribuan tangga menuju kembalinya singgasana sang Sultan yang telah lama hilang..

Semangat dan keyakinan itu yang selalu ada dan mengisi bola matanya, degup jantungnya dan air matanya..

Semangat itu adalah dirinya..

Namun kini, sosok itu meredup, seiring dengan tak terbendungnya lelah dan perih..

YA Allah,, untuk apa semua ini? Apa semua lelah itu tak berarti? Apa semua semangat itu hanya berakhir pada rasa putus asa?

 

Kuatkan aku.. Jika memang itu ikrarku..

Karena aku tidak ingin mengkhianatiMu..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.